Delapan giornata tersisa, tersisa jarak dua poin dengan puncak klasemen, juga ada bahan evaluasi selama satu musim ini. Portiere, difensori, centrocampisti, attaccanti, mana yang perlu dievaluasi? Tentunya attaccanti (para penyerang).
Lini depan tim belum cukup menunjukkan ketajamannya di depan gawang lawan. Khususnya Borriello yang saat dimainkan terus berupaya merebut bola tanpa pernah memberikan tembakan-tembakan yang mengancam gawang lawan. Namun tidak bagi Vucinic, yang bermain layaknya motor serangan Juventus hingga saat ini. Tidak diplot sebagai ujung tombak namun lebih berperan seperti trequartista. Ini sedikit lebih sulit baginya dibandingkan berposisi di ujung tombak sehingga dia lebih sering melebar di sisi kiri (winger).
Lini tengah seperti biasa, sang creator – Andrea Pirlo mengatur ritme permainan Juve. Dengan tetap diapit Vidal dan Marchisio, Pirlo tetap membagi bola seperti biasanya, meskipun secara nyata barisan tengah yang dikomando olehnya juga diapit oleh De Ceglie dan Lichtsteiner yang ditarik agak ke depan. Kredit khusus untuk Vidal yang pantas dianugerahi man of the match pada partai pekan lalu ini. Vidal sangat gigih dalam duel satu lawan satu untuk merebut bola. Memiliki daya jelajah ke semua sektor lapangan, membantu pertahanan dan penyerangan sekaligus dan tidak ragu untuk melakukan tackle-tackle berbahaya. Dan lebihnya lagi, kali ini dia tidak seperti biasanya yang membuat gocekan ala samba dan melesakkan gol diagonal yang sangat fantastis.
Yang paling impresif tentunya tiga defender Juve yang pada pertandingan pekan lalu ini cukup agresif menjaga pergerakan i tre tenori partenopei : Edinson Cavani, Marek Hamsik, & Ezequiel Lavezzi. Bahkan Walter Mazzari pun memuji lini belakang Juventus ini yang membuat tiga pemain andalannya frustasi. Tidak ada lagi kesalahan sepele dari Bonucci bahkan dia cukup rapat di jantung pertahanan meskipun sendiri tanpa bertandem dengan skema empat bek.
Pelatih Antonio Conte tentunya harus memilih pemain yang paling siap dan fit di setiap pertandingan yang akan dimainkan. Permainan sempurna yang ditunjukkan tim kala melawan Napoli pada giornata ke-30 pekan lalu dengan fondasi 3-5-2 telah mengubah kebiasaannya yang menyusun skema ini untuk partai tandang. Juventino di belakang permainan impresif Juventus hingga saat ini tentunya dia. Dia selalu cermat di setiap partandingan yang dimainkan dan tidak membiarkan hal sekecil apapun mengalami kesalahan atau diluar perencanaan dia. Secara taktis strateginya lumayan berhasil, menekan lawan dengan intensitas permainan. Seandainya saja manajemen memberinya seorang attaccante tipikal sang legenda David Trezeguet, pastinya sekarang Juve sudah berada di posisi capolista. Satu kekurangan inilah yang menjadi PR direttore generale Giuseppe Marotta di jeda transfer musim panas nanti. (js)

